big question mark!
kalo kita abis pegat = putus dari sebuah relationship dengan seseorang, emang ngga bisa ya hubungan kita sama dy jadi baik2 aja kaya sebelum jadian?
bukannya dita mau ngarep balik lagi ato gimana.
nggak! maksud dita nanya kaya gitu bukan seperti yg anda2 sekalian fikirkan!! bukan!!!!
cuma apa ngga terlaluuuuuuu...
terlaluuuu......
terlalu apa yaa???
yaa pkoknya apa ngga terlalu bnget sih.!!
sebelum jadian kita bisa baik2, biasa aja.
pas jadian, sangat baik.
abis putus.. emang ngga bisa baik2 aja? apalagi kalo putusnya juga baik2.
haa?? knapa ngga bisa??!!
kalo kaya gitu mah mending ngga usah ada yang pacaran aja kalo ujung2nya ntar putus--- lost contact/musuhan/diem2an.
ya kan? mending dari awal ngga usah jadian aja kalo kaya gitu, dripada harus mutus silaturahmi.
yg bisa ngasih jawaban tolong RT!
eh salah :P *dikira twtr apa-.-*
maksudnya silahkan berikan comment pada posting saya ini!
cukup. sekian. terimakasih.
Butterfly Fly Away
You tucked me in
Turned out the light
Kept me safe and sound at night
Little girls depend on things like that
Brushed my teeth and combed my hair
Had to drive me every where
You were always there when I looked back
You had to do it all alone
Make a living, make a home
Must have been as hard as it could be
And when I couldn't sleep at night
Scared things wouldn't turn out right
You would hold my hand and sing to me
Caterpillar in the tree
Have you wonder who you'll be
Can't go far but you can always dream
Wish you may and wish you might
Don't you worry, hold on tight
I promise you there will come a day
Butterfly fly away
(Hold)
Butterfly fly away(butterfly fly away)
Got your wings now you can't stay
Take those dreams and make them all come true
(Hold)
Butterfly fly away(butterfly fly away)
You've been waiting for this day
All along and known just what to do
(Hold)
Butterfly x3
Butterfly fly away
(Hold)
Butterfly fly away
(Hold)
Butterfly fly away
Miley Cyrus
ngga pernah bosen denger lagu ini, lagu yg bisa bikin hati dita tenang :3 :p
Kepada Kamu, Dengan Penuh Kebencian
Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?
Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?
Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.
Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”
Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.
Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…
aku takut sendirian.
(buku Kepada Cinta (Gagasmedia, 2009))